Transaksi Nirtunai di Cina Menembus 41,5 Triliun Dolar Amerika di 2018

Tak dimungkiri, perkembangan teknologi di era digital hari-hari ini memengaruhi banyak aspek, salah satunya jual beli atau transaksi. Sebut saja start-up yang menyediakan dompet digital-di Indonesia dikenal Dana, Go-pay, Ovo, dll-kini mulai banyak diminati. Pemicunya selain transaksi yang juga semakin cenderung nirtunai (cashless)/digital (jual-beli online) berikut segala promosi yang ditawarkan, kemudahan yang disediakan seperti kecepatan akses, luasnya jangkauan adalah sesuatu yang sangat menarik pembeli. Imbasnya, transaksi jenis ini meningkat tajam, bahkan Cina pada mencatat rekor transaksi digitalnya.

Alipay

Alipay (Photocredit: ST files)

Dilansir Tech In Asia, tahun lalu pembeli di Cina menembus rekor 41,5 triliun dolar amerika untuk ponsel mereka dalam hal belanja online dan juga transaksi di toko yang menyediakan pembayaran nirtunai. Hasil studi minggu lalu dari People’s Bank of China mencatat bahwa ini melonjak sebesar 9,5 triliun dari transaksi yang ada pada tahun 2017 (32 triliun dolar amerika). Cina memang berada pada posisi terdepan dalam transaksi tanpa tunai, mengingat pada 2018, 525 juta dari populasinya menggunakan ponsel mereka untuk membeli barang. Di urutan kedua ada negara berpopulasi besar lain, India, yang mempunyai 73,9 juta pengguna.

Dari pengeluaran sebesar itu, 90 persennya dikuasai Alipay dan WeChat sebagai dua aplikasi dompet digital teratas di China. Sehingga hanya sebagian kecil yang tersisa yang menjadi bagian dari transaksi Apple Pay, Huawey Pay, Xiaomi pay, Baidu Wallet dan aplikasi lainnya. Di sisi lain, pengeluaran sebesar itu tentunya dapat menjadi potensi besar bagi start up-start up berbasis serupa di Indonesia untuk terus meningkatkan kuantitas dan kualitas transaksi berbasis digital yang mereka miliki sendiri. Mengingat Indonesia merupakan salah satu negara berpopulasi besar di dunia di samping Amerika Serikat, India dan Cina sendiri. (ABM)

Write a comment