Start-up Learning Factory, Menyongsong Revolusi Industri 4.0 (Bagian II)

Setelah di bagian pertama kita telah mengetahui mengenai kedua aspek awal dalam konsep Start-up Learning Factory yaitu risk averse management dan usaha riil, kita beralih pada aspek terakhir yaitu inkubator bisnis. Di dalam sebuah perguruan tinggi saat ini, sudah lazim gagasan inkubator bisnis menjadi sesuatu yang terus dikembangkan. Bentuk inkubator bisnis yang handal diharapkan mampu memberikan stimulan yang signifikan pada pengembangan budaya inovasi di perguruan tinggi. Inkubator bisnis juga diharapkan mampu memberikan valuasi terhadap potensi usaha riil yang kemudian dicoba oleh para tenant yang dibina atau direkrut untuk menjalankan usaha riil yang maksud di atas. Dengan konsep learning by doing, diharapkan para pelaksana usaha yang telah dibina selanjutnya diharapkan mampu menjalankan berbagai jenis usaha yang dianggap mampu dilaksanakan. Inkubator bisnis juga diharapkan memberikan arahan dan advokasi tentang berbagai pilihan bentuk usaha serta berbagai perangkat legal lainnya yang dibutuhkan. Kebutuhan ini akan menjadikan sebuah inkubator bisnis diharuskan juga paham dalam berbagai platform berbagai jenis usaha yang ada untuk memaksimalkan peran para pelaksana usaha. Selain itu inkubator bisnis juga seharusnya mampu merangsang ide inovasi dari inventor. Inventor ini bisa datang darimana saja .Jika inkubator bisnis ini bisa berkembang kualitasnya, maka akan semakin cepat valuasi bisa dilakukan.

Di Indonesia, Inkubasi bisnis belum berkembang sebagaimana beberapa negara maju lainnya. Semua produk di Indonesia yang disebut unicorn (memiliki valuasi asset diatas 1 miliar dolar) saat ini masih lahir dari proses yang bisa dikatakan alamiah. Mereka adalah Gojek, Traveloka, Bukalapak, Tokopedia. Semuanya berbasis pada platform teknologi informasi dan jasa dan hampir bisa dikatakan semuanya lahir tanpa ada proses inkubasi formal sebelumnya. Tugas perguruan tinggi yang dibantu oleh segenap stake holdernya lah memformulasikan cara agar formulasi pengembangan bisa dilakukan secara lebih sistematis.

Kombinasi dari ketiga aspek yang dikolaborasikan dalam konsep dasar startup learning factory ini pada kerangka yang lebih besar diharapkan mampu setidaknya untuk :

  1. Memberikan kesempatan sedini mungkin pada para calon tenaga kerja untuk memiliki pengalaman wirausaha baik secara kolektif maupun pribadi untuk paham tentang berbagai aspek nyata dalam implementasi teaching factory. Para pelaksana sedini mungkin dikenalkan pada pentingnya memahami resiko dalam setiap langkah yang diambil, karena akan bermuara pada hidup atau matinya sebuah usaha yang baru.
  • Memberikan kesempatan bagi perguruan tinggi selaku fasilitator pendidikan untuk dapat mengembangkan berbagai inovasi yang punya arah baik dari segi riset dasar maupun segi riset pengembangan yang lebih apliktif. Semakin baik kualifikasi riset dan inovasi yang dilakukan tentunya akan mendongkrak reputasi perguruan tinggi ke kancah yang lebih tinggi.
  • Secara langsung dapat menjadi pusat pengembangan kewirausahawan di berbagai kalangan generasi baik yang terlibat langsung maupun tidak. Hal ini tentunya dapat berkorelasi langsung pada usaha pembukaan lapangan kerja baru secara lebih nyata.
  • Membantu pemerintah dalam mengefisieinsikan dan mengefektifkan anggaran pendidikannya.
  • Salah satu lagi yang tidak kalah pentingnya adalah peran bagi pemerintah sebagai regulator. Dengan pengembangan hal ini, pemerintah diharapkan bisa mendorong melalui regulasi-regulasi yang melindungi berbagai usaha pengembangan produk atau jasa dalam negeri, salah satunya yang khusus berasal dari inkubasi perguruan tinggi. Bila hal ini dilakukan, pemerintah bisa meningkatkan efektivitas anggaran pendidikan ke pengembangan inovasi yang lebih produktif dan efektif secara lebih terukur dan obyektif karena arahan inovasi dan riset yang dilakukan sebagain besar akan mengarah pada usaha yang sinergis membangun daya saing bangsa.

Terakhir, tentunya gagasan ini belumlah sempurna serta banyak sisi yang masih tergolong kurang ataupun bisa jadi masih ada kekeliruan dalam perumusannya. Pembahasan belum memasukkan unsur permodalan di dalamnya sebagai salah satu variabel penting. Ini dikarenakan pengelola usaha yang baik sesungguhnya merupakan aset yang terbesar yang jika dikonversi akan sebanding dengan besarnya liabilitas serta modal yang dapat disertakan pada tahap selanjutnya.

Daftar Pustaka

Biro Pusat Statistik Indonesia 2018

Porter, Michael E. 1985.Competitive Advantage. New york: The Free Press.

Kim, W. Chan & Mauborgne, Renee. 2005. Blue Ocean Strategy. Boston: Harvard business School Press.

Stell, Greg. 2019. 4 Ways to Build an Innovative Team. Harvard Business Review. https://hbr.org/2018/02/4-ways-to-build-an-innovative-team

https://www.topuniversities.com/university-rankings
https://www.imd.org/wcc/world-competitiveness-center-rankings/talent-rankings-2018/

Write a comment