Start-up Learning Factory, Menyongsong Revolusi Industri 4.0 (Bagian I)

Penduduk yang melimpah tak serta merta membuat suatu negara unggul. Indonesia misalnya, justru selalu mengalami masalah ketenagakerjaan yang pelik. Pada tahun 2017, tercatat bahwa mahasiswa di Indonesia baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta berjumlah 6,9 juta orang. Ini tentu jauh lebih besar dengan negara-negara di Asia Tenggara lain. Bahkan, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Singapura yang hanya 5,7 juta jiwa, Indonesia sangat unggul dalam besaran kuantitas. Sayangnya besarnya potensi yang ada ini tidak diimbangi dengan kesiapan dan kualitas kerja yang memadai. Mengacu pada IMD World Talent (Lembaga pemeringkat daya saing tenaga kerja) di tahun 2018, peringkat Indonesia berada pada urutan ke-45. Peringkat ini di bawah negeri-negeri tetangga seperti Singapura (13), Malaysia (22) dan Thailand (42).

Berbagai konsep, cara, dan upaya sebenarnya telah ditempuh untuk menangani masalah yang terus menjadi momok ini. Di pertengahan tahun 90-an contohnya terdapat konsep link & match yang dikembangkan oleh Mendikbud saat itu demi mencoba pendekatan yang lebih nyata guna meningkatkan daya saing. Konsep ini kemudian berevolusi dengan nama konsep teaching factory. Istilah Teaching Factory (Tefa) kemudian diperkenalkan sejak tahun 2000. Awalnya, konsep ini diorientasikan agar para lulusan sekolah kejuruan mampu teradaptasi secara sistematis sehingga menjadi lulusan yang “siap pakai”. Selang hampir dua dekade lamanya, TeFa lalu semakin terintegrasi dan dipenetrasikan ke level pendidikan yang lebih tinggi. Di awal 2018, Kementerian Ristek Dikti bahkan mulai mempublikasikan langkahnya untuk mengoptimalisasi konsep TeFa tadi demi memicu perguruan tinggi untuk menghadapi revolusi 4.0 yang ada di depan mata.

Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh QS Ranking, Indonesia per 2018 ini hanya memiliki Universitas Indonesia (Peringkat 277), Institut Teknologi Bandung (331) dan Universitas Gajah Mada (400) dalam daftar 500 perguruan tinggi terbaik di dunia. Ini memprihatinkan mengingat jumlah perguruan tinggi di Indonesia sendiri ada pada kisaran 3200 lebih. Jika kita bandingkan kembali dengan Singapura, mereka mampu menempatkan 2 perguruan tingginya dalam 20 besar dunia, NTU (11) dan NUS (15). Mengapa ini sesuatu yang harus kita perhatikan berkenaan denganapa yang dikenal dengan competitive advantage.

Dalam competitive advantage, Porter menekankan dua pendekatan yaitu kemampuan untuk berefisiensi yang setinggi seoptimal (cost leadership) mungkin atau kemampuan untuk mengembangkan differensiasi (Porter, 1985). Kemampuan berdifferensasi lah yang kemudian dieksplorasi lebih jauh oleh W. Chan Kim dan Renée Mauborgne dengan sebutan pendekatan blue ocean strategy (Kim & Maborgne, 2005).  Keduanya menekankan pada pengembangan daya saing yang menjadi kunci utama untuk memaksimalkan segala sumber daya yang ada. Tulisan ini kemudian akan membahas hal ini terutama bagaimana mengatasi masalah ketenagakerjaan yang dihadapi Indonesia hari-hari ini di era revolusi industri 4.0 dengan mengusulkan konsep Start-up Learning Factory.

Startup Learning Factory

Konsep ini sederhananya merupakan pengimplementasian konsep Teaching Factory dengan basis start-up. Di sini ditekankan pengembangan soft skill yang mengarah pada kemampuan mengelola risiko usaha (risk averse management) dan terlibat langsung dalam pengembangan sebuah usaha riil, baik usaha yang diberikan (given project) maupun usaha yang diinisiasi sendiri, dan juga proses inkubasi oleh sebuah lembaga inkubator bisnis. Dari sini kita dapat melihat ada tiga aspek penting yang perlu diurai lebih lanjut, yakni risk averse management, usaha riil, dan inkubasi bisnis.

Risk averse management sendiri merupakan sebuah istilah umum dalam dunia investasi khususnya investasi portofolio finansial. Ukuran risk averse ini akan menentukan kemampuan atau daya terima terhadap potensi resiko investasi yang akan diambil. Misalnya, seseorang yang investasi di portofolio berbentuk saham akan memiliki risk averse yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang yang berinvestasi di portofolio obligasi. Penggunaan istilah ini pun dimaksudkan agar setiap orang yang terlibat di dalam proses ini diharapkan memiliki dasar-dasar pengetahuan finansial dasar untuk menanamkan arti sebuah usaha lebih baik lagi. Tidak hanya menekankan pada sasaran pengembangan kapitalisasi aset semata, namun juga menekankan pada hal-hal dasar pengembangan usaha seperti pentingnya laba serta arus kas. Setiap orang yang dilibatkan pada proses pelaksanaan usaha ini dapat disebut pelaksana usaha.

Selanjutnya mengenai usaha riil.  Pada konteks ini, usaha riil yang dimaksud adalah segala jenis usaha yang meningkatkan nilai tambah suatu produk atau jasa, atau dengan kata lain memiliki nilai inovasi yang bisa dikomersilkan. Inovasi tentunya kemudian menjadi kata kunci. Tentunya kita paham bahwa budaya inovasi di Indonesia masih belum berkembang jika dibanding dengan negara-negara lain di dunia. Di tahun 2018, menurut rilis Kemenristekdikti, daya saing inovasi Indonesia masih rendah. Indonesia dalam survei Global Competiveness Report tersebut menduduki peringkat ke-87. Indonesia salah satunya dapat mengatasi permasalahan ini dengan menggunakan cara yang Greg Satell promosikan yaitu dengan memfokuskan pengembangan lingkungan yang didesain untuk mendukung berkembangnya inovasi.

Dua aspek awal dalam Start-up Learning Factory ini (risk averse management dan usaha riil) kemudian akan ditutup dengan aspek terakhir yaitu inkubator bisnis. Tulisan mengenai bagaimana peranan inkubator bisnis serta sekaligus mengenai bagaimana pengaruh kombinasi ketiga aspek ini dalam kontribusinya terhadap masalah yang ada di Indonesia akan dibahas pada bagian kedua tulisan ini.

Bersambung ke bagian II.

Write a comment