Mengapa Indonesia Butuh Start – up

“Adanya ide segar, inovasi dari start-up-start up ini memungkinkan pemanfaatan hal-hal yang tadinya tidak tereksplorasi, bernilai rendah, bisa menjadi sesuatu dengan value yang tinggi”

Operational Manager PT KIM, Chandra Dwi Prakoso

Dimulai pada,minggu ini, PT Kinarya Inovasi Mandiri (KIM) akan menyajikan wawancara khusus mengenai start-up dan seluk-beluknya. Kami mengawalinya dengan mewawancarai Chandra Dwi Prakoso, selaku Operational Manager dari KIM. Pria lulusan Teknik Kimia UI 2012 ini turut menjadi salah satu dari tiga orang pertama yang membuat KIM hingga seperti sekarang. Dalam edisi ini kami meminta pandangannya mengenai komersialisasi riset dan juga urgensi pengembangan start-up, khususnya terkait dampaknya terhadap Indonesia.

Ahmad Baihaqi Musyafa: Mengenai peran Anda sebagai Operational Manager, apa saja tugas yang harus diemban dalam posisi tersebut, dan apakah ada kesibukan lain di luar?

Chandra Dwi Prakoso: Saat ini di KIM sendiri bertugas membantu menghilirisasi dan komersialisasi riset-riset dosen FT UI. Terutama riset yang mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi bisnis yang real sehingga menjadi pemasukan untuk kampus sendiri. Ada juga project-project lain tetapi masih dalam ranah entrepreneur, khususnya technopreneur.

Mengapa kemudian bisa bergabung di KIM?

Saya bergabung dengan KIM sendiri sejak pertama KIM berdiri, waktu itu masih ada dua orang, dirut (direktur utama) dan direktur marketing. Jadi waktu itu dapat info dan link kemudian karena memang waktu itu sebelumnya sudah tertarik dengan komersialisasi riset teknologi-teknologi kampus, gabung lah tuh. Lalu dari awalnya bussiness development manager, sekarang kemudian jadi masuk ke bagian operasional.

“Salah satu keberanian yang harus dimiliki negara yang hendak maju adalah keberanian untuk berinovasi, dan itu erat kaitannya dengan teknologi”

Terkait komersialisasi riset, apa yang menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan?

Kerap kali hasil riset yang ada datang bukan dari pasar ke produk, tapi dari produk ke pasar. Oke, mungkin mereka membuat latar belakang di proposal penelitiannya bahwa ini berasal dari masalah, tapi sebenarnya gak benar-benar dari itu. Mereka (kebanyakan) kurang riset pasar dan lebih memikirkan bagaimana produk itu jadi, bukan memikirkan yang mau menerima produk ini siapa. Concern-nya lebih ke situ, ‘sih, Jadi diharapkan produknya benar-benar mempunyai impact.

Hal yang kedua adalah mengkonsepkan end-point-nya, misalnya skala besarnya. Sehingga ketika suatu produk mau di-up scale, sebut saja skala industri, tetapi ketika diteliti ulang, bisa saja misalkan materialnya mahal, supplier-nya tidak ada, izin edar/izin produksinya tidak mendukung, dan ujungnya produk kita kemudian hanya berakhir di lab.

Ketiga adalah dare to open your mind, untuk melihat siapapun mitra yang membantu kita mengembangkan produk, karena seorang inventor, misalkan dosen, gak mungkin bisa ngerjain sendiri, dan dia bisa berkerja sama dengan pihak lain itu. KIM sendiri tujuannya itu, untuk bisa membantu dosen-dosen mengkomersialisasikan riset mereka.

Mengapa start-up perlu dikembangkan? Apa dampaknya terhadap Indonesia?

Untuk menjadi suatu negara yang maju itu perlu keberanian. Salah satu keberanian yang harus dimiliki negara yang hendak maju adalah keberanian untuk berinovasi, dan itu erat kaitannya dengan teknologi. Jadi kenapa start-up itu perlu? Karena start-up itu adalah perusahaan yang bisa tumbuh secara eksponensial dan konsekuensinya, start-up zaman sekarang itu mengubah model-model bisnis yang berjalan seperti itu saja, menjadi menciptakan model-model yang sebelumnya tidak pernah ada dan tak pernah diperkirakan sebelumnya. Inovasi-inovasi ini gak akan bisa dilahirkan sama perusahaan-perusahaan/korporat yang sudah mature, karena biasanya mereka sudah terlena dan nyaman dengan gaya mereka masing-masing, dan juga sisi inovatif mereka relatif kurang besar. Start-up kemudian perlu hadir dan muncul dengan perubahan-perubahan radikal dan segar sehingga daya inovasi negara bisa jadi lebih maju.

Seperti salah satu isi di buku favoritnya Mark Zuckerberg, bahwa layaknya kisah David-Goliath, perusahaan-perusahaan kecil bisa menang melawan perusahaan-perusahaan besar. Continues improvement yang ada di start-up bisa memicu nantinya suatu saat sektor-sektor yang sekarang masih dikuasai asing bisa dikalahkan. Misalnya selama ini Jepang adalah negara yang memasok banyak industri otomotif di Indonesia. Tetapi misalkan start-up seperti Gojek, yang dilahirkan anak Indonesia, bisa membuat Jepang ketergantungan dengan model bisnis yang diinisiasi Indonesia. Sehingga kemudian bisa berjaya. Adanya ide segar, adanya inovasi dari start-up-start up ini memungkinkan pemanfaatan hal-hal yang tadinya tidak tereksplorasi, bernilai rendah, bisa menjadi sesuatu dengan value yang tinggi. Ini perlu disokong bantuan oleh negara, entah teknis, non-teknis, maupun berbentuk subsidi.

Wawancara oleh Ahmad Baihaqi Musyafa

Write a comment